Desember 28, 2010

Menjadi Nak Bali (Bag 3 - Akhir)

Menjadi Nak Bali (Bag 3 - Akhir)
artikel dilanjutkan dari: Menjadi Nak Bali (Bag 2)


Kuta dimalam hari
Teman gue, Enrico, datang ke Bali bersama keluarganya buat liburan. Jadi kita janjian nih buat ketemu dan gue jadi pemandu wisatan instan di malam hari sekitar area Kuta. Pertama nih kita pergi ke Joger (yang sudah tutup). Joger adalah tempat suvenir kata-kata Bali lucu dan unik makanya disebut pabrik Kata-kata. Kata-kata yang diproduksi bisa ditemukan di produk merch yang mereka jual seperti kaos, sendal, atau gelas. Tempat ini terkenal buat turis lokal dan gak buka tempat di luar Bali. Lokasinya ada di dekat bandara (Jalan Raya Kuta/Tuban).

Setelah itu, kami pergi ke mal Discovery. Sebuah mal yang bersinggungan dengan area pantai Kuta.

Kita juga pergi ke monumen bom Bali di area Legian. Ya, mereka yang menjadi korban pantas kita ingat dan hormati.

Lokasi Legian memang sangat hidup di malam hari dengan pesta dan kelab-kelab yang bergairah. Kita disamperin sama 2 cewek bule yang sudah mabuk dan sama sekalai gak ingat di mana mereka tinggal. Kita gak bisa denger banget apa yang mereka bilang karena ngomongnya kayak kumur-kumur. Banyak juga yang muntah di jalan.

Papan seluncur ikonik dari hotel Hard Rock ini tentu saja sayang untuk dilewatkan!


Kejadian Malang
Sayang sekali, gue mengalami kemalangan. Gue kehilangan laptop, hp, dan baterai kamera (jadi kameranya gak bisa berfungsi lagi). Ini terjadi ketika ada maling masuk kamar gue (ngerinya ketiga gue lagi tidur). Akibatnya gue gak punya alat yang bisa merekam perjalanan di bali untuk akhir pekan berikutnya sehingga gue cuma bisa selanjutnya untuk berkisah (kecuali ada foto yang disediakan oleh teman).

Ubud + Kintamani
Gue pergi ke Ubud buat menenangkan diri setelah kejadian malang itu. Ternyata ini merupakan keputusan terbaik karena sedihnya akutuh kehilangan laptop dan di laptop itu ada kerjaan, semua tugas pemrograman, dan materi belajar ada di sana. Mengapa? Ubud menawarkan banyak lokasi-lokasi yang menenangkan untuk dinikmati. Sawah yang berundak menawarkan kedamaian dalam bentuk pemandangan yang hijau. Gue selalu mendengar lantunan gamelan Bali dimainkan di mana saja di Ubud. Dalam perjalanan ke Ubud, gue juga sempat mampir di pasar Sukawati untuk membeli sebuah baju.
Tips: Untuk menikmati pemandangan sawah berundak, yang terbaik ada di daerah Tegalalang (bagian dari Ubud). Tegalalang juga merupakan pusat kerajinan tangan terutama di jalan Tegalalang Raya yang mengarah ke pegunungan Kintamani.

I went to Monkey Forest. It was fun to go there. It was also the shooting location for Eat, Pray, and Love movie starred by Julia Roberts. I purchased pisang (Bananas) to feed them. You must be careful to take care your stuff since they are aggressive to pick up anything and run/climb unreachable or maybe just break your stuff such your eyeglasses or hats. The colonies of the monkey will remind you of human behaviour. They fought for foods. They claimed territory for its own colony. Females took care of their children and breastfed them. Males cheated its current spouse and get into another females. Ha ha ha! Although, monkeys are considered sacred here and any other Puras. Gue pergi ke Monkey Forest. Sangat menyenangkan untuk bisa ke sana. Tempat ini juga lokasi syuting film Eat, Pray, and Love yang dibintangi oleh Julia Roberts. Gue sempet beli pisang untuk kasih makan mereka. Tapi loe mesti hati-hati ya karena monyet-monyet itu sangat agresif untuk ambil apapun yang mereka bisa ambil lalu lari/manjat menjauh atau mereka ngerusakin barang yang mereka ambil kayak kacamata/topi.

Mereka suka berantem untuk makanan. Monyet-monyet di sini punya koloninya masing-masing dan setiap koloni ada pemimpinnya. Monyet betina ngurusin dan nyusuin anaknya. Sedangkan yang Jantan suka selingkuh dari pasangannya dan meninggalkan demi betina idaman lainnya. Wkwkwkw! Walaupun begitu, monyet-monyet ini dianggap suci.

Untuk pengalaman seputar kebudayaan dan seni, gue pergi ke museum Don Antonio Blanco yang gak jauh letaknya dari Monkey Forest. Setelah beli tiket, gue dikasih minuman selamat datang dan dikasih bunga kamboja untuk diselipkan di telinga. Bunga ini diambil di taman yang ada di sekitar museum. Pemberian bunga ini merepresentasikan kehangatan dari keluarga Antonio Blanco untuk menyambut pengunjung. Rumahnya cukup besar dengan bangunan galeri terpisah, taman, pura privat, dan area tinggal bagi keluarga. Kita gak boleh sama sekali untuk mengambil gambar tapi tentu saja kita bisa nikmatin karya terkenal beliau. Banyak lukisan telanjang dengan model yang diduga adalah istrinya? Anaknya, Mario Blanco, juga melukis dan melanjutkan karya ayahnya. Mario punya gaya lukisannya sendiri. Sebelumnya gue gak pernah pergi ke museum luki dan ini mengubah pandangan gue tentang kesenian dan gue merasa terinspirasi dan tambah kreatif dalam menghargai warna dari seni.

Lanjut ke Kintamani, gue berhenti di salah satu restoran yang ada di ujung tebing. Gue membayar Rp. 100.000,- untuk makan buffet (all you can eat). Restoran ini menghadap Gunung Batur. Gue duduk di daerah meja yang dibuat pas dekat ujung tebing. Gue bisa liat pemandangan dari Gunung Batur, Gunung Abang, Danau Batur, dan area sekitarnya saat makan siang.

Ternyata, beberapa minggu setelahnya, gue berkesempatan untuk kembali di tengah malam untuk trekking naik gunung ke puncak Gunung Batur dimulai dari titik awal pendakiannya. Gue ngeliat pemandangan galaksi yang indah beserta bintang-bintang di langit. Bahkan cukup sering gue liat "bintang jatuh" dan cepat-cepat gue membuat doa harapan (tentu salah satunya supaya penjahatnya ketangkap dan laptop gue bisa ketemu). Pemandangan ini bisa gue liat karena cuacanya cerah tanpa ada banyak awan. Salah satu kolega yang sudah pernah mendaki dan ngerti soal jalan memimpin pendakian ini. Perlu 4 jam untuk mendaki ke puncak sebelum waktu matahari terbit. Sungguh indah saat matahari terbit dan pengalaman yang tak terlupakan. Catatan: Gue ngerekomendasiin sewa pemandu walaupun pendakian ini tidaklah sulit demi keamanan loe semua.

(foto oleh Mbak Abi)
Setelah cukup menikmati pemandangan, kita turun ke bawah sebelum tambah panas. Kita ambil rute berbeda untuk turun ke bawah dan ternyata itu cukup menantang. Kita lewat jalur sempit dimana kedua sisinya adalah jurang. Kita bergelayutan dan bergerak horizontal di bebatuan bekas lahar ala Lara Croft di Tomb Raider. Ngeri banget guys! Soalnya ada batu yang panas dan mengeluarkan asap (bisa rebus telur loh).

Akhirnya, kami sampai di pemberhentian pertama. Ajaibnya ada warung indomie di sini yang jual dengan harga 4x lipat.

Sisanya kita lewat hutan cemara dan sampai dengan selamat. Keren banget!

Minggu-minggu lainnya, gue juga berkesempatan buat datengin Pura Tanah Lot, nyobain pesta dugem di Legian, ngelihat nakalnya monyet (lagi) di Pura Uluwatu yang menghadap ke laut di sisi tebing,Pantai Lovina di Bali utara, Air terjun GitGit, Pulau Serangan (pusat perlindungan penyu/kura-kura dan pantainya), dll.

membuat pose dramatisasi ala Dragon Ball Kamehameha di taman GWK

Gue bikin wish saat liat bintang jatuh dan ternyata terkabul! Jadi gue dapat kabar dari polisi yang menghubungi gue kalau mereka berhasil menangkap penjahatnya dan ada laptop gue ketemu. Tetapi, gue gak bisa ambil itu laptop sampai proses peradilannya selesai. HP sama baterai kameranya gak ketemu sih tapi yang penting sih memang laptop dan isinya. Polisi bisa ngetrek gue (buka data dokumen kontrak seputar magang yang ada di dalam) dan gue kagum sangat (soalnya laptop gue diamankan dengan kata kunci).

Tinggal di Bali sekitar 3 bulan membuat gue mengenal banyak tentangnya dari jalan sampai tempat wisatanya. Untuk budaya dimana gue selalu bangun dengan aroma dari persembahan pagi yang dibuat oleh orang lokal, makanan Nasi Bali, Sambal Matah, Bumbu Bali, Ayam Betutu, dan juga suara Gamelan Bali, matur suksma. Gue (hampir) menjadi nak Bali nih! --Akhir--