Oktober 22, 2010

Menjadi Nak Bali (Bag 1)

Menjadi Nak Bali (Bag 1)

Nak Bali artinya orang yang berasal dari Bali. Tapi, bukan aku :D. Puji Tuhan, gue dikasih kesempatan buat tinggal di sini sekitar 3 bulan dimulai dari bulan Juni 2010 sampai Agustus 2010 untuk kerja magang di PT. Mitrais (Software Development). Ini merupakan titik balik gue untuk merengkuh dunia luar, karena gue gak pernah keluar jauh banget dari lingkup kota rumah gue di Kota Depok.

Gue mulai perjalanan ini di Terminal 3 Soekarno Hatta International Airport, Cengkareng yang melayani area Jakarta dan sekitarnya. Terminal ini mengadopsi desain yang modern dan minimalis. Ini sangat berbeda dari 2 terminal sebelumnya. Terminal ini melayani penerbangan berbiaya rendah seperti AirAsia dan Mandala Airlines. Gue pergi ke Bali dengan nyokap supaya beliau bisa ngenalin gue ke saudara-saudara yang tinggal di sana dan mereka bisa bantu gue buat mencari kos-kosan selama gue bekerja magang. Kita dapat tiket yang lumayan murah sekitar Rp. 700.000,- pp. Mantab! Harganya cukup oke.

Pengalaman penerbangan pertama bagi gue ini cukup menegangkan karena beberapa guncangan serta sempat turun ketinggian sesaat karena turbulensi di udara vakum sebagian dan diakibatkan oleh cuaca yang kurang baik.

Ketika kami sampai, kami pergi ke Bali Utara dimana di sana ada beberapa saudara dari bokap gue yang tinggal di sekitar pantai Lovina. Dalam perjalanan balik ke Kuta, kami sempat mampir di Bedugul. Bedugul itu tempat yang menarik dan indah. Sebenarnya, Bedugul (area) merupakan area resort pegunungan yang dikelilingi beberapa danau, salah satunya danau Beratan. Danau ini memiliki Pura Ulun Danu yang sangat terkenal (terlihat seolah mengambang di danau Beratan) dan ada di mata uang rupiah. Tak jauh dari situ, ada kebun bunga.

Saking ikonik, Bedugul tampil di uang 50.000 rupiah.

Ketika kami mampir, cuacanya mendung.

Pengalaman gue mencari kamar sekitar tempat magang tidak mudah. Setiap tempat yang gue selalu bilang kamarnya sudah terisi. Tapi, gue berhasil mendapatkan satu kamar walaupun harga per bulannya sekitar Rp. 700.000,-. Paling penting adalah gue bisa istirahat. Kamar gue berantakan loh.

Gue tinggal dekat bandara Ngurah Rai dan pantai Segara/Jerman. Gue selalu ngerasa gerah. Tapi di sinilah gue mulai merasa menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan pesawat terbang. Mengapa? Pantai Jerman adalah lokasi yang paling menarik untuk ngeliatin pesawat mendarat dan lepas landas dan gue sangat suka. Gue berharap gue punya kamera DSLR dan lensa jauh waktu itu buat spotting.

Selama tinggal di sini, gue dipinjemin sepeda oleh saudara gue yang tentu saja sangat berguna buat jalan di sekitar Kuta. Jadi saat waktu luang, gue naik itu sepeda ke pantai dan nikmati pemandangan alam di sekitar pantai. Gue hampir percaya kalau setiap hari ini kayak liburan di Bali tetapi sebenarnya gue kerja di sini!


Mantai itu enak sehabis kerja :)

Gak jauh dari tempat gue tinggal ada taman bermain air yang gue pengen coba tapi akhirnya enggak. Gue simpan untuk kesempatan lainnya.

Gue yakin di Bali punya banyak patung-patung dan taman publik lebih banyak serta lebih menarik daripada daerah lain di Indonesia. Patung ini terletak di dekat bandara dan kosan gue.

Ada satu contoh menarik nih di Bali mengenai harmonisnya unsur keagamaan di sini. Penduduk Indonesia kebanyakan adalah penganut agama Islam, akan tetapi di Bali mayoritas penduduknya penganut agama Hindu. Kita akan menemukan sebuah gereja yang berdiri berdampingan dengan mesjid dan pura tepat di depan patung kuda pada gambar sebelumnya. Gedung-gedung ibadah ini berdiri dengan harmonis.

bersambung ke bag 2.